Koperasi dan Utility Coin Digagas untuk Perkuat Ekonomi Desa
SERANG, FOKUS TV – Sebuah konsep pengembangan ekonomi desa berbasis koperasi dan teknologi digital diperkenalkan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui usaha produktif dan sistem transaksi berbasis utility coin.
Penggagas program menjelaskan bahwa langkah awal yang dilakukan adalah memperkuat kesejahteraan kepala desa dan pengurus koperasi sebagai motor penggerak ekonomi di tingkat desa. Menurutnya, keberhasilan program sangat bergantung pada kemampuan para pengelola desa dalam menjalankan roda organisasi dan usaha.
"Kepala desa harus lebih dulu sejahtera agar program bisa berjalan dengan baik dan menjadi contoh bagi masyarakat," ujarnya.
Dalam skema yang ditawarkan, pengurus koperasi desa akan mendapatkan bantuan usaha berupa kandang ayam petelur lengkap dengan ternaknya yang telah siap berproduksi. Modal tersebut diberikan bukan melalui APBD, melainkan dari program yang dikembangkan oleh komunitas.
Setiap kandang berkapasitas sekitar 1.000 ekor ayam petelur. Hasil produksi telur nantinya menjadi sumber pendapatan koperasi yang dikelola secara profesional tanpa membebani pengurus desa untuk terlibat langsung dalam operasional harian.
Selain sektor peternakan, koperasi juga akan diarahkan untuk mendukung petani padi, jagung, dan pelaku usaha perikanan. Salah satu fokusnya adalah membantu kebutuhan modal usaha yang selama ini menjadi kendala utama bagi petani.
Disebutkan bahwa biaya produksi padi rata-rata mencapai Rp12 juta hingga Rp13 juta per hektare mulai dari pembelian pupuk, biaya tanam hingga panen. Melalui sistem yang disiapkan, petani akan memperoleh dukungan pembiayaan berbasis digital.
Program tersebut menggunakan konsep utility coin sebagai alat transaksi dalam ekosistem usaha komunitas. Koin digital itu nantinya digunakan untuk berbagai kebutuhan produktif, termasuk pembelian sarana produksi pertanian.
Penggagas program menegaskan bahwa utility coin berbeda dengan aset kripto spekulatif. Nilainya diklaim bertumpu pada aktivitas ekonomi riil yang dilakukan masyarakat dalam jaringan koperasi dan komunitas.
Selain sektor pertanian dan peternakan, aplikasi yang dikembangkan juga akan mengintegrasikan berbagai usaha masyarakat seperti warung, jasa transportasi, hingga usaha mikro lainnya dalam satu platform digital.
Melalui sistem komunitas dan kode referal, setiap transaksi yang terjadi akan tercatat secara otomatis dalam aplikasi. Pengguna dapat memantau aktivitas usaha, jaringan anggota, hingga akumulasi poin atau koin yang diperoleh dari aktivitas ekonomi yang dilakukan.
"Semua gerakan transaksi akan tercatat di aplikasi. Masyarakat bisa belajar memanfaatkan data untuk mengembangkan usaha mereka," katanya.
Konsep tersebut juga mengusung gagasan pemanfaatan aktivitas sehari-hari sebagai sumber perolehan koin digital. Koin yang terkumpul akan terakumulasi dalam akun pengguna dan nilainya bergantung pada perkembangan aktivitas ekonomi dalam ekosistem tersebut.
Saat ini, program masih dalam tahap sosialisasi dan penyusunan model implementasi. Pengembang berharap konsep koperasi berbasis produksi dan digitalisasi tersebut dapat menjadi alternatif penguatan ekonomi desa yang berkelanjutan di masa mendatang.
