Hujan Abu Gunung Anak Krakatau, Mahasiswa Desak Dinkes Banten Bertindak
SERANG – FOKUS TV – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang disebut terus berlangsung memicu kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat di sejumlah wilayah Banten. Hujan abu vulkanik dilaporkan menyelimuti kawasan pesisir Kabupaten Serang, Kota Serang, Cilegon, hingga wilayah Tangerang dan Jakarta.
Paparan material vulkanik tersebut disebut berdampak terhadap kesehatan warga. Keluhan yang muncul antara lain gangguan saluran pernapasan atau Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, serta gangguan pada kulit.
Di tengah kondisi tersebut, kelangkaan masker medis dan masker N95 juga menjadi sorotan. Pasokan masker disebut sulit ditemukan di sejumlah pusat perbelanjaan dan apotek di Kota Serang dan sekitarnya.
Ketua Forum Silaturahmi Mahasiswa Jakarta Banten, Nurhadi, mengkritik respons pemerintah daerah yang dinilai belum sebanding dengan kondisi masyarakat di lapangan.
"Kami melihat adanya ketimpangan ekstrem antara krisis kesehatan publik di lapangan dengan tindakan dari instansi terkait. Dinas Kesehatan Provinsi Banten dan BPBD terkesan gagap serta hanya berlindung di balik imbauan formalitas di media," kata Nurhadi.
Menurut dia, imbauan penggunaan masker harus disertai dengan langkah konkret untuk memastikan masyarakat memiliki akses terhadap alat pelindung diri.
"Menyarankan warga memakai masker di saat stok masker di Kota Serang langka dan harganya melonjak adalah bentuk penanganan yang lepas tangan. Bencana ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan lembaran imbauan," ujarnya.
Nurhadi menilai ketidakpastian mengenai durasi aktivitas vulkanik GAK harus diantisipasi dengan langkah mitigasi kesehatan yang berkelanjutan. Pemerintah, kata dia, tidak boleh hanya menunggu dampak kesehatan semakin meluas.
Forum tersebut mendesak Dinas Kesehatan Provinsi Banten bersama Pemprov Banten segera mendistribusikan masker medis dan N95 secara gratis, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.
Selain distribusi masker, Dinkes juga diminta berkoordinasi dengan Satgas Pangan dan dinas perdagangan untuk mengantisipasi kelangkaan serta lonjakan harga masker di pasaran.
"Kami juga mendesak adanya distribusi cairan pencuci mata dan perlengkapan perlindungan lainnya kepada masyarakat di wilayah yang terdampak abu vulkanik," kata Nurhadi.
Mereka juga meminta pemerintah mengerahkan unit kesehatan keliling atau mobile clinic ke permukiman terdampak. Tim medis diharapkan dapat melakukan deteksi dini ISPA, pemeriksaan kesehatan, serta memberikan pengobatan langsung kepada warga.
Penguatan fasilitas kesehatan primer juga dinilai penting. Puskesmas dan rumah sakit di wilayah terdampak diminta memastikan ketersediaan oksigen, obat-obatan untuk gangguan pernapasan, serta perangkat nebulizer.
Selain penanganan kesehatan, pemerintah diminta mengantisipasi abu vulkanik yang kembali beterbangan akibat aktivitas kendaraan atau angin (resuspensi). Dinkes diharapkan berkoordinasi dengan BPBD dan pemadam kebakaran untuk melakukan penyiraman serta pembersihan jalan dan fasilitas publik secara berkala.
Hingga berita ini ditulis, desakan tersebut diarahkan kepada Dinkes Provinsi Banten dan jajaran Pemprov Banten agar meningkatkan langkah penanganan di lapangan, khususnya untuk melindungi masyarakat dari dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik.Jika Anda ingin, saya juga bisa membuat versi lebih tajam untuk berita investigatif/kritik kebijakan, atau versi lebih netral seperti straight news Detik.com.
