Sultan Banten XVIII Tegaskan Makna Maulid Nabi
SERANG, FOKUS TV – Sultan Banten XVIII, Yang Mulia Ratu Bagus (RTb.) Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja, menyampaikan pesan penting dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dihadirinya di sejumlah daerah.
Sultan Banten XVIII mengingatkan umat Islam agar peringatan kelahiran Rasulullah SAW tidak hanya dipandang sebagai kegiatan seremonial tahunan. Menurutnya, Maulid Nabi harus menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah sekaligus mengamalkan ajaran yang dibawanya.
“Besarkan acara peringatan Maulid Nabi daripada acara peringatan lainnya, jangan sampai terbalik,” tegas Sultan Banten XVIII saat menyampaikan taujihat dan pencerahan di hadapan jamaah.
Sultan menjelaskan, peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW setiap 12 Rabiul Awal merupakan momentum untuk mengungkapkan rasa syukur atas hadirnya Rasulullah sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam atau rahmatan lil ‘alamin.
Ia kemudian menjelaskan sejumlah makna penting yang dapat menjadi landasan umat Islam dalam memperingati Maulid Nabi.
Pertama, Maulid menjadi bentuk mahabbah atau kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah SAW. Kecintaan tersebut dapat diwujudkan melalui lantunan selawat, pembacaan sirah nabawiyah, majelis taklim, serta pengajian.
Menurut Sultan, kecintaan kepada Rasulullah juga harus diwujudkan dengan meneladani sifat-sifat utama Nabi, yakni shiddiq atau jujur, amanah atau dapat dipercaya, tabligh atau menyampaikan kebenaran, dan fathanah atau cerdas.
Keteladanan tersebut, lanjutnya, juga mencakup sikap welas asih, kesabaran, serta kepedulian terhadap sesama yang perlu diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Kedua, peringatan Maulid Nabi dapat menjadi sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah dan syiar Islam. Kegiatan Maulid di berbagai daerah kerap diisi dengan gotong royong, santunan anak yatim, sedekah, hingga silaturahmi.
Sultan juga menyinggung keberagaman tradisi peringatan Maulid di Indonesia yang berkembang dan berbaur dengan kebudayaan masyarakat setempat, termasuk tradisi Panjang Mulud di Banten dan berbagai tradisi Maulid di daerah lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sultan turut membacakan landasan perintah berselawat sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 56.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
Sultan Banten XVIII menegaskan bahwa esensi peringatan Maulid Nabi bukan berhenti pada kemeriahan acara. Momentum tersebut harus mendorong umat untuk semakin mendekatkan diri kepada ajaran Rasulullah SAW.
Ia mengajak masyarakat menerapkan nilai-nilai keteladanan Nabi dalam kehidupan sehari-hari, antara lain dengan menebarkan kasih sayang, menegakkan keadilan, mempererat persaudaraan, dan memperbanyak amal kebajikan bagi sesama.
Dengan demikian, rangkaian peringatan Maulid Nabi diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat akhlak dan syiar Islam di tengah masyarakat.Jika ingin, naskah ini juga bisa saya buatkan versi lebih tajam untuk portal berita FOKUS TV, dengan judul yang lebih kuat dan lead yang lebih menarik tanpa mengubah substansi.
