28 Tahun Reformasi, BEM Serang Raya Soroti Ancaman Demokrasi
SERANG, FOKUS TV – Momentum 28 tahun Reformasi dimaknai mahasiswa sebagai pengingat pentingnya menjaga demokrasi dan supremasi sipil di Indonesia. Hal itu disampaikan dalam Aksi Kamisan yang digelar Aliansi BEM Serang Raya, Rabu (21/5/2026).
Dalam aksi refleksi Hari Reformasi tersebut, mahasiswa menyoroti maraknya keterlibatan militer di ranah sipil yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Kondisi tersebut disebut sebagai ancaman terhadap demokrasi yang diperjuangkan sejak Reformasi 1998.
Massa aksi menegaskan bahwa reformasi lahir untuk menghapus dominasi militer dalam kehidupan sipil serta menghadirkan pemerintahan yang demokratis dan berpihak kepada rakyat. Namun, situasi saat ini dinilai menunjukkan adanya kemunduran demokrasi.
Mahasiswa juga menyoroti berbagai bentuk pendekatan represif yang masih terjadi, mulai dari penyempitan ruang kritik hingga kriminalisasi terhadap aktivis. Mereka menegaskan bahwa kebebasan berpendapat merupakan hak warga negara yang dijamin konstitusi.
“Aktivis bukan kriminal dan kebebasan berpendapat adalah hak rakyat yang harus dilindungi,” tegas massa aksi dalam orasinya.
Selain isu demokrasi, mahasiswa mendesak negara segera menuntaskan berbagai kasus pelanggaran HAM berat yang hingga kini belum diselesaikan secara adil dan transparan. Mereka menilai demokrasi yang sehat hanya dapat terwujud apabila supremasi sipil ditegakkan.
Koordinator Aliansi BEM Serang Raya, Tubagus Fajri Ramadhan, mengatakan perjuangan reformasi tidak boleh berhenti hanya sebagai agenda seremonial tahunan.
“Demokrasi, HAM, dan kebebasan sipil merupakan hak rakyat yang wajib dijaga bersama,” ujarnya.
Melalui aksi refleksi tersebut, BEM Serang Raya menyerukan agar semangat reformasi terus diperjuangkan secara konkret demi mewujudkan Indonesia yang lebih adil, demokratis, dan manusiawi. Hingga aksi berakhir, kegiatan berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan.
